Rabu, 13 Juni 2012

Rindu Yang Karam


Tetie Pandiangan
Aku sedang berjalan seorang diri di sebuah tempat yang gelap gulita. Tidak ada cahaya di sekelilingku, kalaupun ada, itu pun hanya remang-remang di dalam benakku. Tempat itu sangat asing bagiku. Tidak ada orang lain di situ. Aku tidak tahu tempat apa itu. Ketika aku sedang berjalan seorang diri itu, seseorang tiba-tiba datang di belakangku. Perasaanku membisikkan, itu adalah dia, karena bayang-bayang wajahnya selalu ada dalam benakku dan melekat di kepalaku sebelum tidur. Walaupun di kegelapan, tapi aku dapat membayangkan itu adalah wajah dan desah nafasnya di belakangku.

Aku membalikkan tubuhku, dan sebelum aku sempat menatapnya lebih jelas lagi, ia sudah memeluk tubuhku hingga aku diam tak bergerak. Perlahan, kurasakan ia mulai menciumi pipiku, keningku, lalu bibirku. Walaupun desah nafasnya agak memburu, tapi aku dapat merasakan kalau ia menciumku dengan lembut. Kurasakan hangat pelukannya pada tubuhku, hingga aku menikmati itu bersamaan dengan hawa panas yang mulai menjalari darah dan naluri kewanitaanku. Aku membalas erat dekapannya di tubuhku dan membenamkan kepalaku ke situ, serasa tak ingin lagi aku terbangun pada detik itu.

Tapi sesuatu dalam diriku lagi-lagi membisikiku untuk melepaskan diri darinya, bahkan aku berusaha untuk terbangun karena bisikan itu. Akhirnya, aku terbangun dengan nafas memburu, degup jantungku berdetak dua kali lebih keras dari biasanya. Ternyata itu hanya mimpi.

Keesokan paginya, sepanjang hari aku memikirkan mimpi itu. Aku ingin memberitahukan padanya tapi aku tak berani. Takut dia mengira aku mengada-ada dan cuma mengarang cerita saja untuk mengaduk-aduk perasaannya. Akhirnya aku ceritakan mimpiku itu pada teman baikku. Ia malah ketawa dan bereaksi, "Wah…, kacauuu…, apa kata duniaaa…?!? Hahaha…!"

Setelah itu, aku berusaha menepis mimpi itu dan menganggapnya cuma bunga tidur yang tidak usah diambil pusing. Karena kami sudah tidak pacaran lagi dan tidak saling bertanya kabar atau berbagi cerita. Cinta yang sudah lama kami rajut sudah kandas. Sebab itulah Aku pun tidak pernah menceritakan padanya mimpi tentang aku dan dia itu.


Hari ini ultahku yang ke-22. Teman-teman di akun fb-ku berbondong-bondong memberiku ucapan selamat ultah di wall aku saat ini. Tapi orang yang paling kutunggu-tunggu malah tidak mengucapkan ultah untukku, bahkan ia seolah tak tahu, atau berpura-pura tidak tahu.


Dua hari kemudian, aku meng-update status di wall fb-ku untuk melukiskan perasaanku yang berkecamuk diliputi amarah, kecewa, dan kesedihan yang amat-sangat berbaur menjadi satu. "Dalam psikologi, ada suatu kelainan bernama Stockholm Syndrome, untuk menyebutkan seseorang yang mencintai secara membabi-buta kepada seseorang lain, walaupun ia kerap disakiti." Dan aku menambah di akhir kalimat itu, "PS: It’s okey, I still forgive you whatever you’ve done to me!"

Tak kusangka, ia marah besar keesokan harinya. Mungkin ia membaca update-statusku begitu ia mencek akun fb-nya pagi itu.

Kali ini, sms-ku ia balas dengan ketus sekali. "Sori, aku lagi sibuk sekali."

Aku merasa, ia benar-benar marah setelah membaca update-statusku kemarin.

Ah, sebenarnya untuk apa pula ia marah? Bukankah dulu ia yang mencintaiku? Selama tiga tahun kami pacaran,apa  aku harus rela menjalani hari-hariku yang melelahkan ini tanpa dia?.

Tapi semua yang aku lakukan dengan ikhlas, yang memang tulus mencintainnya. Aku Tak lagi dihiraukannya. Sampai setengah bulan belakangan ini, ia mulai menjauhiku sampai sekarang, hari-hariku tidak lagi indah dan gembira. Hampir setiap saat aku habiskan hari-hariku dengan menangis dan menyesali, kenapa harus berakhir hubungan yang sudah lama kami jaga?

Dan hari ini…

Aku tidak tahu harus berbuat apa, cerita yang indah tentang kisah kami mungkin telah rusak dan berakhir. Atau mungkin mimpiku tentangnya itu tak berarti apa-apa baginya. Atau mungkin juga, jodoh kami hanya cukup sampai di sini. Semua cerita sedih, keluh-kesah, mimpi-mimpi dan khayalan fatamorgana, telah menjadi sampah yang tiada lagi berharga dan patut untuk dibuang. Kuharap, ini adalah airmataku yang terakhir untuknya. Bila memang semua yang telah kami lewati tidak berarti sama sekali baginya, maka sebaiknya buang saja ke dalam tong sampah dan tidak usah lagi dikenang.

Aku merasa, sekarang ia tidak lagi memerlukan aku. Mungkin juga ia tidak memerlukan perhatian dan kasih sayang. Apalagi kehangatan cintaku.

Semoga dia bahagia dengan gadis lain dan aku juga bisa menemukan lelaki yang bisa membahagiakanku.


Selamat Ulang Tahun yang Ke-22  tahun Tetie Pandiangan.
Semoga Panjang Umur dan sukses selalu.
Tetap tegar kawan jalani hidup ini.




Perempuan Bermata Elang

Seketika ricuh hati menjelma sepi
saat angan terbangun dari pembaringan
mulai tampak kegelisahan melanda
kisah suci yang lama sudah terjaga
seakan lelah memaksa untuk mengakhiri semua
dan tak ingin mencipta segores tanda
seperti yang lalu yang pernah ada

Telah lelah kau kutuki sepi
ia tak juga pergi
mengikuti hari yang berlari
maka tertatihlah segala letih
ia merajam pada jiwa yang rindu persinggahan
bunga-bunga mekar dan gugur
tak lagi terlihat

Terkadang kau rindu dengan nyanyian itu
lagu yang dapat mencipta senyum pada bibirmu
walau kau tahu hanyalah sebuah keterpaksaan
terlihat jelas saat tatap nanarmu menyentuh relungnya

Lalu kemana engkau menuju
kemana engkau hanyutkan jiwamu
kemana engkau bermuara
kemana engkau tenggelamkan kerapuhanmu itu?
engkau tak punya kendali
engkau tak punya kemudi
engkau tak punya emosi

Kaulah perempuan bermata elang
bertekad baja
memiliki senyum selembut kapas
dan suara sesepi angin
melintasi musim demi musim
berharap menemu penawar




Rindu Yang Karam

Tak pernah kering rindumu
meski sungai itu mengalir sederas tetesan air mata
tak juga kau berikan rindu pada siapa pun
meski sebesar butiran pasir di bibir pantai
rindumu hanya tertuju padanya

Tapi ketika hendak terbang sayapmu kaku
ketika melangkah kakimu beku
tatkala kau pandang matamu redup dan sayu
mencoba kau gapai
tapi topan menampar tubuhmu
dan kau terhempas bersama rindu yang karam

Kau berharap hujan akan datang
menyirami tanah-tanah tandus yang
dilanda kekeringan

Kau berharap angin datang menari lembut
di teras rumah
menghibur tubuh yang dilanda kepanasan
menghapus semua rasa duka nestapa
dan menyampaikan salam rindumu untuknya

Namun itu hanya sebatas pengharapan
tak tentu arah kapan akan menjadi kenyataan
hingga rasa rindu untuknya
telah membeku di dasar hati



Panggururan 11 Juni 2012
By:Suryono B Siringo-Ringo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar