Ilustrasi/Admin(loungess.com)
Membandingkan
Kreatifitas,intelektualisme,idealisme,patriotisme,mentalitas,moral maupun jati
diri mahasiswa dahulu dengan mahasiswa sekarang,sangatlah jauh berbeda. Sudah
bukan menjadi rahasia umum. Fenomena plagiasi, transaksi jual beli ijazah, jual
beli Skripsi bahkan Tesis, sering terjadi di kalangan mahasiswa yang menjadikan
kualitas hasil dari tugas akhir (skripsi, tesis dan desertasi) mahasiswa
menjadi setumpuk penghias perpustakaan-perpustakaan kampus dan tidak mampu
berperan banyak dalam menyelesaikan persoalan.Kemana kreatifitas mahasiswa yang dulu pernah dibanggakan? Apa yang tengah terjadi di Kampus, sehingga proses kreatif itu hilang begitu saja? Problem apakah sebenarnya yang terjadi di Kampus, sehingga terjadi kematian yang panjang dalam kreatifitas mahasiswa? Apakah proses kreatif itu memang sudah dimatikan di dunia kampus kita?
Apakah degradasi mahasiswa baik itu dari kreatifitas,idealism hingga jati diri mahasiswa saat ini disebabkan oleh pengaruh budaya luar yang tidak tersekat meluncur deras melalui banyak media seperti televisi dan internet, telah banyak meracuni mahasiswa yang dengan mudahnya meniru budaya asing tersebut tanpa kontrol hanya agar bisa disebut gaul dan updater, gaya hidup konsumtif dan hedonis seperti berburu barang-barang import dan gadget terbaru, berpesta-pesta dan menghabiskan waktunya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti telah menjadi tradisi.?
Atau memang karena adanya pengaruh dari sistem pendidikan yang membentuk mentalitas yang buruk bagi mahasiswa, mulai dari sekolah dasar kita telah dijejali dengan ilmu yang bersifat dogma sampai perguruan tinggi pun kita masih dijejali dengan dogma dan teori-teori yang seperti tidak dapat di kritisi lagi, sehingga mahasiswa sekarang jarang sekali mampu mengeluarkan teori baru untuk menjawab suatu permasalahan, mereka hanya berkutat dan berkiblat ke dalam teori atau dogma-dogma yang ada.?
Atau kah memang karena kampus sekarang tak ayalnya seperti penjara karena formalisme universitas dan beban kurikulum yang sangat berat (overloaded). Akibatnya, hampir tidak tersisa lagi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas intelektualnya.?
Dengan system pendidikan yang ada saat ini lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses. Identifikasinya kian jelas, mahasiswa diajari lupa akan kemandirian dan tanggung jawab kolektif. Kampus juga seolah tidak lagi merupakan tempat mahasiswa melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral dan akhlak, di mana mereka mendapat koreksi tentang tindakan-tindakannya, salah atau benar dan baik atau buruk.
Proses pendewasaan diri tidak berlangsung baik di lingkungan kampus. Lembaga pendidikan ini cenderung lupa pada fungsinya untuk turut mendewasakan mahasiswa, mempersiapkan mereka untuk meningkatkan kemampuan meresponi dan memecahkan masalah-masalah dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga tidak heran apabila mahasiswa setelah lulus dan keluar dari universitas merasa canggung dan gagap terhadap realitas. Dan wajar saja setelah diwisuda banyak mahasiswa mengemis pekerjaan. Mereka merendahkan diri karena derajat intelektual telah tiada dan kalah oleh para pemilik modal.
Krisis Kreatifitas,mentalitas dan moral mahasiswa, bagaimanapun juga merupakan cermin dari krisis Kreatifitas,mentalitas dan moral dalam masyarakat lebih luas. Maka sudah sepantasnya masyarakat dan Terlebih yang bergelut di dunia pendidikan merasa perihatin dan mendorong serta membuat cara mengembalikan ruh jati diri mahasiswa.
Sebab tataran kampus yang selama ini tidak membuka ruang dan dukungan bagi mahasiwa untuk berekspresi dan berkontribusi serta Tri Darma perguruan tinggi yang selama ini terbatas pada simbol, tetapi tidak benar-benar real di dalam aplikasinya barangkali salah satu dari sekian banyak alasan krisisnya kreatifitas mahasiswa sekarang.
Perguruan Tinggi seharusnya bisa menjadi kontributor bagi peningkatan perekonomian, serta mampu memperbaiki tatanan sosial dan budaya bangsa. Untuk itu,agar Kedudukan dan fungsi universitas benar-benar terwujud dalam peran yang nyata. Maka sebagai penunjang utama,perguruan tinggi harus meningkatkan kualitas riset, staf pengajar dan metode ajar. Dengan begitu, kualitas perguruan tinggi tidak hanya tertumpu oleh jumlah lulusan, lama studi, indeks prestasi kumulatif melainkan kreatifitas mahasiswanya.
BY: SBSR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar