Euforia mahasiswa yang hendak diwisuda
terkadang Memunculkan keangkuhan pada mahasiswa karena menganggap dengan gelar S1 bakal
gampang meraih segalanya. Mereka beranggapan, ijazah adalah ikon penghasil kehidupan.
Muncul angan-angan melampaui realitas di hati seluruh sivitas akademika.Tatkala
lagu “Indonesia Raya”, mars dan himne
universitas hingga lagu
nasional dinyanyikan dalam prosesi wisuda,Mahasiswa pun terhanyut karena bangga dapat menyelesaikan pendidikan
di perguruan tinggi (PT) di tengah kemerebakan komersialisasi pendidikan.
Dalam prosesi wisuda tersebut Semua
dikondisikan serba sempurna, Rektor dengan percaya diri maju ke podium, memberikan
sambutan, pengarahan, lantas memimpin pengucapan ikrar alumni untuk selalu
menjaga nama baik almamater.
Begitu sempurnanya prosesi wisuda dalam setiap kampus di negeri ini,seolah-olah setelah wisuda, para winisuda bisa langsung berkiprah di dunia praksis yang (konon) merupakan pengabdian pada bangsa dan negara. Padahal Faktanya tidak demikian, Seusai diwisuda, mayoritas sarjana menambah angka penganggur terdidik dengan grafik berfluktuasi setiap tahun. dikarenakan minimnya lapangan pekerjaan dan semakin bertambahnya jumlah sarjana di Indonesia setiap tahunnya, maka Indonesiapun dapat dikategorikan sebagai negara pencetak sarjana pengangguran. Jika dinilai salah, lantas siapakah yang patut untuk disalahkan? Para sarjanakah, atau justru lapangan pekerjaan yang tidak memadai?
Jika melihat realita yang terjadi di lingkungan kampus. Salah satu penyebab tiap tahunnya sarjana pengganguran meningkat,salah satunya karena system pendidikan kita saat ini,di kampus, acapkali mahasiswa hanya terjebak dan terbelenggu oleh kebijakan kampus yang cenderung memasung,Sistem Kredit Semester (SKS) kian kaku dan "otoriter", sehingga Mahasiswa senantiasa antusias, selalu menyempatkan hadir meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu, dan tak hendak mengajukan protes bila kemudian sang dosen justru tak hadir tanpa alasan yang rasional. Mahasiswa sekarang telah terjebak pada rutinitas membosankan: berangkat-kuliah-nongkrong-pulang. Mahasiswa dipaksa berhenti berpikir karena sistem pengaturan pendidikan dan diktat-diktat yang tertentukan sehingga mempersempit ruang gerak mahasiswa. meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu.
Tiada pilihan lain buat mahasiswa selain kuliah,kuliah dan kuliah dan tak sempat melihat apa yang terjadi di dunia. Mahasiswa seakan diajarkan agar lulus dari perguruan tinggi dengan cepat dan IPK berkepala tiga koma. Padahal IPK tidak menjadi jaminan untuk cepat dapat kerja.Pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses patut kita sudutkan sebagai tersangka utama.kenapa tidak?.dengan system pendidikan yang ada saat ini mahasiswa pun dicetak untuk sekadar menjadi buruh perusahaan.Dengan demikian Identifikasinya kian jelas, mahasiswa diajari lupa akan kemandirian dan tanggung jawab kolektif.maka wajar saja setelah diwisuda banyak mahasiswa mengemis pekerjaan. Mereka merendahkan diri karena derajat intelektual telah tiada dan kalah oleh para pemilik modal.
Memang tidak sepatutnya kita hanya menyalahkan system pendidikan kita, di sisi lain juga mahasiswa patut disalahkan,sebagian besar mahasiswa masih kurang menyadari persaingan ketat saat ini yang terjadi di dunia kerja. Fenomena sikap hedonis yang melekat pada diri sebagian besar mahasiswa saat ini.yang mana sikap hedonis yang kerap kali tidak memikirkan apapun selain kesenangan dan hanya berfoya-foya tanpa peduli dengan yang terjadi pada masyarakat.menjadikan mahasiswa itu setelah wisuda hanya akan menambah pengganguran di negeri ini.
Ada empat dosa yang tak disadari mahasiswa, yakni membaca, diskusi, menulis, dan sosialisasi. Keempat hal itu merupakan kebutuhan primer bagi mahasiswa yang tak bisa ditawar-tawar. Namun realitasnya, mahasiswa cenderung lebih banyak tidak melakukan keempat hal itu. Padahal dengan Tradisi membaca, mahasiswa sebagai penyandang gelar agent of change, tentu harus dibarengi dengan kualitas diri yang memadai. Sehingga Identitas mahasiswa dapat tercermin dari ketertarikan mereka membaca. Namun, tradisi membaca ini juga harus didukung oleh aktivitas berdiskusi. Berdiskusi menjadi kategori kedua dalam rangkaian kebutuhan primer. Sebab, dari sini lah para mahasiswa dapat mengeksplorasi gagasan-gagasan mereka. Selain itu, dengan aktif berdiskusi, para mahasiswa akan mampu menjamah berbagai linier ilmu. Hal ini menjadi sangat mudah, karena memang dalam berdiskusi, para pembicara akan saling beradu argumentasi.
Begitu sempurnanya prosesi wisuda dalam setiap kampus di negeri ini,seolah-olah setelah wisuda, para winisuda bisa langsung berkiprah di dunia praksis yang (konon) merupakan pengabdian pada bangsa dan negara. Padahal Faktanya tidak demikian, Seusai diwisuda, mayoritas sarjana menambah angka penganggur terdidik dengan grafik berfluktuasi setiap tahun. dikarenakan minimnya lapangan pekerjaan dan semakin bertambahnya jumlah sarjana di Indonesia setiap tahunnya, maka Indonesiapun dapat dikategorikan sebagai negara pencetak sarjana pengangguran. Jika dinilai salah, lantas siapakah yang patut untuk disalahkan? Para sarjanakah, atau justru lapangan pekerjaan yang tidak memadai?
Jika melihat realita yang terjadi di lingkungan kampus. Salah satu penyebab tiap tahunnya sarjana pengganguran meningkat,salah satunya karena system pendidikan kita saat ini,di kampus, acapkali mahasiswa hanya terjebak dan terbelenggu oleh kebijakan kampus yang cenderung memasung,Sistem Kredit Semester (SKS) kian kaku dan "otoriter", sehingga Mahasiswa senantiasa antusias, selalu menyempatkan hadir meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu, dan tak hendak mengajukan protes bila kemudian sang dosen justru tak hadir tanpa alasan yang rasional. Mahasiswa sekarang telah terjebak pada rutinitas membosankan: berangkat-kuliah-nongkrong-pulang. Mahasiswa dipaksa berhenti berpikir karena sistem pengaturan pendidikan dan diktat-diktat yang tertentukan sehingga mempersempit ruang gerak mahasiswa. meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu.
Tiada pilihan lain buat mahasiswa selain kuliah,kuliah dan kuliah dan tak sempat melihat apa yang terjadi di dunia. Mahasiswa seakan diajarkan agar lulus dari perguruan tinggi dengan cepat dan IPK berkepala tiga koma. Padahal IPK tidak menjadi jaminan untuk cepat dapat kerja.Pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses patut kita sudutkan sebagai tersangka utama.kenapa tidak?.dengan system pendidikan yang ada saat ini mahasiswa pun dicetak untuk sekadar menjadi buruh perusahaan.Dengan demikian Identifikasinya kian jelas, mahasiswa diajari lupa akan kemandirian dan tanggung jawab kolektif.maka wajar saja setelah diwisuda banyak mahasiswa mengemis pekerjaan. Mereka merendahkan diri karena derajat intelektual telah tiada dan kalah oleh para pemilik modal.
Memang tidak sepatutnya kita hanya menyalahkan system pendidikan kita, di sisi lain juga mahasiswa patut disalahkan,sebagian besar mahasiswa masih kurang menyadari persaingan ketat saat ini yang terjadi di dunia kerja. Fenomena sikap hedonis yang melekat pada diri sebagian besar mahasiswa saat ini.yang mana sikap hedonis yang kerap kali tidak memikirkan apapun selain kesenangan dan hanya berfoya-foya tanpa peduli dengan yang terjadi pada masyarakat.menjadikan mahasiswa itu setelah wisuda hanya akan menambah pengganguran di negeri ini.
Ada empat dosa yang tak disadari mahasiswa, yakni membaca, diskusi, menulis, dan sosialisasi. Keempat hal itu merupakan kebutuhan primer bagi mahasiswa yang tak bisa ditawar-tawar. Namun realitasnya, mahasiswa cenderung lebih banyak tidak melakukan keempat hal itu. Padahal dengan Tradisi membaca, mahasiswa sebagai penyandang gelar agent of change, tentu harus dibarengi dengan kualitas diri yang memadai. Sehingga Identitas mahasiswa dapat tercermin dari ketertarikan mereka membaca. Namun, tradisi membaca ini juga harus didukung oleh aktivitas berdiskusi. Berdiskusi menjadi kategori kedua dalam rangkaian kebutuhan primer. Sebab, dari sini lah para mahasiswa dapat mengeksplorasi gagasan-gagasan mereka. Selain itu, dengan aktif berdiskusi, para mahasiswa akan mampu menjamah berbagai linier ilmu. Hal ini menjadi sangat mudah, karena memang dalam berdiskusi, para pembicara akan saling beradu argumentasi.
Dan juga Mahasiswa tampaknya belum mau dan mampu memberdayakan otak kreatifnya. Dengan kata lain, Selama ini, paradigma mahasiswa hanya puas sebagai konsumen tulisan. mahasiswa memposisikan dirinya sebagai pengguna dan pemanfaat dari tulisan-tulisan orang lain. Faktanya, saat tugas akhir, penulis sering mendapati banyak mahasiswa yang browsing internet demi terpenuhinya tugas. Jelas sudah mahasiswa menyandang sebagai predikat tukang plagiat dan konsumen belaka. Bagaimana pun mahasiswa Sebagai kaum intelektual muda harus mampu membiasakan menulis.
Sudah bukan masanya lagi mahasiswa dikatakan sebagai konsumen, dan plagiarisme. Mahasiswa kini harus menjadi produsen tulisan dengan menjadikan menulis sebagai tradisi. Penghargaan besar pantas untuk dianugerahkan bagi para sarjana ahli menulis. Merekalah pribadi yang tidak akan merasa kebingungan, mencari berbagai jenis pekerjaan, karena justru pekerjaanlah yang akan mencari mereka. Tentu, bukanlah sembarang tulisan yang digelontorkan, akan tetapi, tulisan-tulisan yang mengandung gagasan emas untuk merestorasi keterbelakangan keluarga, masyarakat, agama, maupun bangsa Indonesia. Untuk itulah harusnya seorang mahasiswa cepat tanggap dengan persaingan kerja saat ini,dapat menjadi alarm bagi dirinya sendiri untuk bersiap-siap ketika keluar dari dunia perkuliahan dimulai dari bekerja part time, berorganisasi bahkan mulai berwirausaha dan menambah ketrampilan khusus di luar pelajaran di Perguruan Tinggi sehingga menjadi nilai lebih ketika menjadi seorang fresh graduate Perguruan Tinggi.
Suryono B Siringo-ringo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar