Gaya Hidup Mahasiswa sekarang(pema-usm.blogspot.com)
BAGI mahasiswa tertentu, kampus menjadi
zona nyaman untuk menghabiskan sisa usia serta zona aman agar tidak dikatakan
sebagai pengangguran. “Daripada nganggur di rumah lebih baik menjadi mahasiswa
di kampus,” kata seorang teman. Saking nyaman menyandang status mahasiswa,
tidak jarang sebagian mahasiswa rela menghabiskan jatah studi maksimum 14
semester. Dalih mereka banyak. Bagi yang merasa senior di sebuah organisasi
mahasiswa, dalih nyaman hidup di kampus adalah untuk melakukan kaderisasi. Yang
merasa mendapat kenyamanan finansial dari orang tua, dalih pembenaran mereka
adalah memanfaatkan peluang selagi masih mendapatkan jaminan hidup. Tak apalah
lama di kampus, toh masih ada yang menanggung.
Beda dari komunitas mahasiswa yang harus mandiri untuk menempuh perjalanan pendidikan. Dalih pembenaran di kampus bukan kenyamanan, melainkan “keterpaksaan”. Bagi mereka, menjadi mahasiswa adalah kesempatan untuk meraih gemilang masa depan. Karena itulah, banyak di antara mereka yang selama masih menjadi mahasiswa juga ikut berbagai kegiatan kampus atau sambil bekerja paruh waktu. Aktivitas di kampus adalah untuk memperkaya poin, bukan koin. Demi memenuhi kebutuhan, mereka rela berlama-lama di kampus, asal apa yang mereka impikan kelak tercapai. Empat tahun menjadi mahasiswa terasa kurang cukup waktu untuk melakukan usaha diri, menempa diri, mengembangkan diri. Sakralitas waktu mereka manfaatkan secara baik.
Pertanyaannya, lebih banyak mana
mahasiswa yang merasa nyaman di kampus dan yang merasa terpaksa terus hidup di
kampus? Memang belum ada penelitian mendalam tentang hal itu. Namun bila
dilihat dari fenomena kehidupan dan gaya hidup di kampus, tak sulit menemukan
banyak kelatahan di kalangan rakyat kampus. Gaya tutur, gaya tubuh, dan gaya
bahasa ternyata masih menyisakan ironi dan kegenitan intelektual.
Seperti Mal.Cara-cara bergaya itu
ternyata terdukung oleh gaya arsitektur kampus dan lingkungan yang melingkupi.
Karena banyak mahasiswa bersepeda motor atau bermobil ria ketika kuliah, pihak
kampus pun tak segan menyediakan tempat parkir luas dan nyaman. Kebijakan
praktis kampus bukan untuk mengatur agar mobilitas kendaraan tidak menyesaki
ruang belajar, tetapi justru memperluas area parkir. Akibatnya, kampus tampak
seperti mall yang kikuk menampung kendaraan.
Kenyamanan tempat makan juga membuat
kampus harus menyediakan ruang kantin lebih besar. Bukan hanya mahasiswa yang
diuntungkan, pihak kampus pun meraup untung dari sewa tempat para penjaja
makanan di kantin. Kampus akhirnya seperti pasar, ramai tawaran dan permintaan
makan-minum dari mahasiswa yang lapar atau sekadar nongkrong. Bergaya. Ruang
kampus makin sesak dengan transaksi dan ekspresi gaya hidup mahasiswa.
Bagaimana dengan pusat studi?
Dijamin, perpustakaan, majelis diskusi, seminar, dialog, dan lain-lain adalah
tempat terasing dan singgahan terakhir bagi mahasiswa ketika ada tuntutan
akademis: menulis makalah atau skripsi. Ia bukan ruang singgahan yang asyik
untuk memanjakan diri. Perpustakaan adalah kegelapan yang sepi peminat.
Padahal, ia merupakan jantung perguruan tinggi.
Sering Dibungkam Ruang-ruang sepi
senyap itu hanya dinikmati kalangan mahasiswa yang merasa “terpaksa” melakoni
diri sebagai rakyat kampus. Ada ejeken sinis dari sementara mahasiswa bahwa
menghadiri acara-acara “tak bergaya” itu tidak menjamin masa depan. Perguruan
tinggi juga kurang melirik aktivitas mereka. Tak ada kebijakan infrastruktur
bermakna yang mewadahi komunitas-komunitas diskusi dan kelompok studi
mahasiswa, yang dihuni rakyat kampus “terpaksa” itu. Sulit menemukan gedung
yang khusus diperuntukkan bagi diskusi atau pentas seni, misalnya.
Dalam beberapa kasus, aktivitas
mereka malah sering kali dibungkam secara birokratis. Teriakan pers mahasiswa
acap tak didengar, bahkan dibungkam. Untuk menghadirkan pembicara dalam sebuah
diskusi, kelompok kritis itu harus beraudiensi dulu dengan pengelola kampus,
bila tidak ingin mendapatkan resistensi birokratis. Akhirnya, tak jarang hasrat
intelektual mereka dikebiri. Hidup di kampus makin tak nyaman, kian tidak aman
pula.
Karena ketidaknyamanan yang kian
tidak aman, mereka keluar kampus mencari napas kebaruan. Justru ketika
bergabung dengan kelompok luar itulah mereka lebih bisa mengembangkan diri dan
terbuka, baik untuk mencari proyek maupun mengembangkan sayap intelektual.
“Saya tidak mau menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang),”
kata seorang kawan. Pilihan gaya mahasiswa memang beda-beda. Tergantung pada
kenyamanan masing-masing.
SBS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar