Ilustrasi/Admin(hmimpofhuii.blogspot.com)
Mahasiswa
merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan
bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya
peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen - momen
bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya
Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda
terdepan. Di masa lalu telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali
mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan
peradaban bangsa ini.
Berkaca
dari cermin sejarah, setiap pergerakan mahasiswa dari zaman ke zaman selalu
memiliki kekuatan untuk memberikan setetes perubahan pada bangsa ini. Kritik
yang disampaikan mahasiswa (walaupun terkadang berakhir menjadi wacana saja) ,
seringkali menjadi ”peringatan” yang tajam untuk pemerintah. Mahasiswa akan
selalu mengalami regenerasi dalam perjuangannya. Karena Pergerakan mahasiswa
adalah denyut nadi dari kehidupan mahasiswa itu sendiri,disaat pergerakan itu
MATI, maka Mahasiswanya pun bisa dikatakan MATI.
Seperti
yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahu
1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan
bertindak semena-mena. Ada kebanggan tersendiri, bukan soal menurunkan diktator
Soeharto; tetapi bagaimana perjungan akan keadilan dan kesejahteraan itu bisa
mahasiswa sumbangkan kepada negara tercinta ini.
Namun
Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan orientasi gerakan. Sejak jatuhnya
Soeharto pada bulan Mei 1998, mahasiswa Indonesia saat ini sudah terpecah.
Kalau dulu mahasiswa berhimpun dalam satu barisan untuk melawan rezim diktator
yang terkenal otoriter, dimana tenaga, waktu, air mata, keringat, bahkan darah
menjadi taruhannya, dimana para martir intelektual berguguran dan betapa mahal
dampak huru hara setelah peristiwa-peristiwa tersebut, kini mereka seperti
terpecah.
Gerakan
mahasiswa menjadi mandul, tidak substansif dan hanya sekedar corong ’sponsor’
saja. Idealisme yang diagung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan
sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat.
Kemandulan idealisme menjadi sebuah ’tuduhan’ awal untuk menjawab fenomena ini.
Dan bahkan sebagian besar organisasi mahasiswa mengeluhkan hal yang sama.
Kekurangan kader militan yang secara kualitas dan kuantitas seimbang. Yang ada
bukan hanya kader karbitan yang sesekali waktu bisa meninggalkan organisasi
tanpa permisi. Organisasi intra kampus apalagi.
Pada
keadaan seperti ini, Sejatinya mahasiswa perlu reorientasi arah gerak dan
perjuangan mahasiswa. Kita perlu ’ret-ret’ mempertanyakan sejauh mana
kontribusi kita bagi bangsa ini sebagai bukti kalau kita adalah bagian dari
komunitas intelektual. Kita seharusnya mengingat dan merenungkan kembali
catatan-catatan sejarah yang selalu menempatkan mahasiswa kritis ataupun
sebagai pioneer perjuangan dalam menyatakan kebenaran.Tanpa radikalisme
pemikiran mahasiswa kritis dan dukungan mahasiswa ataupun pemuda pada umumnya,
niscaya sampai hari ini sejarah hanya akan melewatkan lembaran-lembaran kosong
dalam buku catatanya.
Sungguh kita rindu melihat mahasiswa-mahasiswa dari strata sosial, agama, etnis dan latar belakang manapun berteriak dengan lantang dalam satu barisan kalau mereka adalah intelektual Indonesia yang sebenarnya. “Bangkitlah Mahasiswa Indonesia dari tidur panjang mu.” Kita hidup di dunia nyata. Segala impian dan kenangan mengenai perjuangan dan pergerakan mahasiswa bolehlah tetap ada tetapi jangan sampai kita terus terbuai olehnya. Tetap beraksi, fokus, dan mengedepankan intelektualitas sebagai kekuatan satu-satunya kita. Mahasiswa tidak bertindak dengan senjata. Bagi kita, senjata adalah kata-kata yang keluar dari kemurnian hari dan kejujuran dalam bertutur.
Jangan
sampai idealisme mahasiswa untuk memperjuangkan kesejahteraan sirna oleh
kemilau kemajuan teknologi yang memudahkan hidup dengan mengenyampingkan
semangat berpikir. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa terpasung oleh tawaran
menggiurkan bernama globalisasi dan pasar bebas yang menyediakan segala sarana
bagi manusia. Juga di dalamnya mahasiswa. Jangan sampai hal ini akhirnya
menjadi mitos, bahwa kemandulan aksi dan perjuangan mahasiswa bertekuk lutut
pada yang namanya fashion, food, and film.
Saatnya
bangkit dari tidur panjang dan mimpi indah mengeni heroiknya perjungan
mahasiswa dulu. Perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh mahasiswa dulu
layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang
sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung
jawab kita sebagai mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita
yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini.
Saat
ini,bangsa ini menaruh harapan besar kepada kita mahasiswa, harapan untuk
menyelamatkan bangsa ini dari ambang kehancuran. Dengan kegagahan
intelektualitasnya, ketegaran jasmaninya, serta mentalitasnya yang pantang
menyerah menjadikan pergerakan mahasiswa adalah tonggak utama bagi perubahan.
Oleh karena itu,sudah saatnya mahasiswa seharusnya menunjukan taringnya sebagai
garda terdepan agent of change. akhir kata “…Masa kini adalah masanya kita.
Siapa yang diam, dia akan ditinggalkan dan dilupakan oleh Sejarah. Hanya orang
kritis dan beranilah yang membuat perubahan….”
Salam
Mahasiswa.
BY: SBSR
TEMUKAN JUGA DI KOMPASIANA
BY: SBSR
TEMUKAN JUGA DI KOMPASIANA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar