Sabtu, 30 Juni 2012

Idealisme Mahasiswa Semakin Mandul, Kenapa?

13408615181351098446
Ilustrasi/Admin(hmimpofhuii.blogspot.com)

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen - momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan. Di masa lalu telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini.
Berkaca dari cermin sejarah, setiap pergerakan mahasiswa dari zaman ke zaman selalu memiliki kekuatan untuk memberikan setetes perubahan pada bangsa ini. Kritik yang disampaikan mahasiswa (walaupun terkadang berakhir menjadi wacana saja) , seringkali menjadi ”peringatan” yang tajam untuk pemerintah. Mahasiswa akan selalu mengalami regenerasi dalam perjuangannya. Karena Pergerakan mahasiswa adalah denyut nadi dari kehidupan mahasiswa itu sendiri,disaat pergerakan itu MATI, maka Mahasiswanya pun bisa dikatakan MATI.
Seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahu 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Ada kebanggan tersendiri, bukan soal menurunkan diktator Soeharto; tetapi bagaimana perjungan akan keadilan dan kesejahteraan itu bisa mahasiswa sumbangkan kepada negara tercinta ini.
Namun Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan orientasi gerakan. Sejak jatuhnya Soeharto pada bulan Mei 1998, mahasiswa Indonesia saat ini sudah terpecah. Kalau dulu mahasiswa berhimpun dalam satu barisan untuk melawan rezim diktator yang terkenal otoriter, dimana tenaga, waktu, air mata, keringat, bahkan darah menjadi taruhannya, dimana para martir intelektual berguguran dan betapa mahal dampak huru hara setelah peristiwa-peristiwa tersebut, kini mereka seperti terpecah.
Gerakan mahasiswa menjadi mandul, tidak substansif dan hanya sekedar corong ’sponsor’ saja. Idealisme yang diagung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat. Kemandulan idealisme menjadi sebuah ’tuduhan’ awal untuk menjawab fenomena ini. Dan bahkan sebagian besar organisasi mahasiswa mengeluhkan hal yang sama. Kekurangan kader militan yang secara kualitas dan kuantitas seimbang. Yang ada bukan hanya kader karbitan yang sesekali waktu bisa meninggalkan organisasi tanpa permisi. Organisasi intra kampus apalagi.
Pada keadaan seperti ini, Sejatinya mahasiswa perlu reorientasi arah gerak dan perjuangan mahasiswa. Kita perlu ’ret-ret’ mempertanyakan sejauh mana kontribusi kita bagi bangsa ini sebagai bukti kalau kita adalah bagian dari komunitas intelektual. Kita seharusnya mengingat dan merenungkan kembali catatan-catatan sejarah yang selalu menempatkan mahasiswa kritis ataupun sebagai pioneer perjuangan dalam menyatakan kebenaran.Tanpa radikalisme pemikiran mahasiswa kritis dan dukungan mahasiswa ataupun pemuda pada umumnya, niscaya sampai hari ini sejarah hanya akan melewatkan lembaran-lembaran kosong dalam buku catatanya.

Sungguh kita rindu melihat mahasiswa-mahasiswa dari strata sosial, agama, etnis dan latar belakang manapun berteriak dengan lantang dalam satu barisan kalau mereka adalah intelektual Indonesia yang sebenarnya. “Bangkitlah Mahasiswa Indonesia dari tidur panjang mu.” Kita hidup di dunia nyata. Segala impian dan kenangan mengenai perjuangan dan pergerakan mahasiswa bolehlah tetap ada tetapi jangan sampai kita terus terbuai olehnya. Tetap beraksi, fokus, dan mengedepankan intelektualitas sebagai kekuatan satu-satunya kita. Mahasiswa tidak bertindak dengan senjata. Bagi kita, senjata adalah kata-kata yang keluar dari kemurnian hari dan kejujuran dalam bertutur.
Jangan sampai idealisme mahasiswa untuk memperjuangkan kesejahteraan sirna oleh kemilau kemajuan teknologi yang memudahkan hidup dengan mengenyampingkan semangat berpikir. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa terpasung oleh tawaran menggiurkan bernama globalisasi dan pasar bebas yang menyediakan segala sarana bagi manusia. Juga di dalamnya mahasiswa. Jangan sampai hal ini akhirnya menjadi mitos, bahwa kemandulan aksi dan perjuangan mahasiswa bertekuk lutut pada yang namanya fashion, food, and film.
Saatnya bangkit dari tidur panjang dan mimpi indah mengeni heroiknya perjungan mahasiswa dulu. Perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh mahasiswa dulu layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini.
Saat ini,bangsa ini menaruh harapan besar kepada kita mahasiswa, harapan untuk menyelamatkan bangsa ini dari ambang kehancuran. Dengan kegagahan intelektualitasnya, ketegaran jasmaninya, serta mentalitasnya yang pantang menyerah menjadikan pergerakan mahasiswa adalah tonggak utama bagi perubahan. Oleh karena itu,sudah saatnya mahasiswa seharusnya menunjukan taringnya sebagai garda terdepan agent of change. akhir kata “…Masa kini adalah masanya kita. Siapa yang diam, dia akan ditinggalkan dan dilupakan oleh Sejarah. Hanya orang kritis dan beranilah yang membuat perubahan….”
Salam Mahasiswa.

BY: SBSR
TEMUKAN JUGA DI KOMPASIANA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar