Sabtu, 30 Juni 2012

13408135431562861629
Ilustrasi/Admin(loungess.com)


Membandingkan Kreatifitas,intelektualisme,idealisme,patriotisme,mentalitas,moral maupun jati diri mahasiswa dahulu dengan mahasiswa sekarang,sangatlah jauh berbeda. Sudah bukan menjadi rahasia umum. Fenomena plagiasi, transaksi jual beli ijazah, jual beli Skripsi bahkan Tesis, sering terjadi di kalangan mahasiswa yang menjadikan kualitas hasil dari tugas akhir (skripsi, tesis dan desertasi) mahasiswa menjadi setumpuk penghias perpustakaan-perpustakaan kampus dan tidak mampu berperan banyak dalam menyelesaikan persoalan.

Kemana kreatifitas mahasiswa yang dulu pernah dibanggakan? Apa yang tengah terjadi di Kampus, sehingga proses kreatif itu hilang begitu saja? Problem apakah sebenarnya yang terjadi di Kampus, sehingga terjadi kematian yang panjang dalam kreatifitas mahasiswa? Apakah proses kreatif itu memang sudah dimatikan di dunia kampus kita?

Apakah degradasi mahasiswa baik itu dari kreatifitas,idealism hingga jati diri mahasiswa saat ini disebabkan oleh pengaruh budaya luar yang tidak tersekat meluncur deras melalui banyak media seperti televisi dan internet, telah banyak meracuni mahasiswa yang dengan mudahnya meniru budaya asing tersebut tanpa kontrol hanya agar bisa disebut gaul dan updater, gaya hidup konsumtif dan hedonis seperti berburu barang-barang import dan gadget terbaru, berpesta-pesta dan menghabiskan waktunya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti telah menjadi tradisi.?

Atau memang karena adanya pengaruh dari sistem pendidikan yang membentuk mentalitas yang buruk bagi mahasiswa, mulai dari sekolah dasar kita telah dijejali dengan ilmu yang bersifat dogma sampai perguruan tinggi pun kita masih dijejali dengan dogma dan teori-teori yang seperti tidak dapat di kritisi lagi, sehingga mahasiswa sekarang jarang sekali mampu mengeluarkan teori baru untuk menjawab suatu permasalahan, mereka hanya berkutat dan berkiblat ke dalam teori atau dogma-dogma yang ada.?

Atau kah memang karena kampus sekarang tak ayalnya seperti penjara karena formalisme universitas dan beban kurikulum yang sangat berat (overloaded). Akibatnya, hampir tidak tersisa lagi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas intelektualnya.?

Dengan system pendidikan yang ada saat ini lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses. Identifikasinya kian jelas, mahasiswa diajari lupa akan kemandirian dan tanggung jawab kolektif. Kampus juga seolah tidak lagi merupakan tempat mahasiswa melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral dan akhlak, di mana mereka mendapat koreksi tentang tindakan-tindakannya, salah atau benar dan baik atau buruk.

Proses pendewasaan diri tidak berlangsung baik di lingkungan kampus. Lembaga pendidikan ini cenderung lupa pada fungsinya untuk turut mendewasakan mahasiswa, mempersiapkan mereka untuk meningkatkan kemampuan meresponi dan memecahkan masalah-masalah dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga tidak heran apabila mahasiswa setelah lulus dan keluar dari universitas merasa canggung dan gagap terhadap realitas. Dan wajar saja setelah diwisuda banyak mahasiswa mengemis pekerjaan. Mereka merendahkan diri karena derajat intelektual telah tiada dan kalah oleh para pemilik modal.

Krisis Kreatifitas,mentalitas dan moral mahasiswa, bagaimanapun juga merupakan cermin dari krisis Kreatifitas,mentalitas dan moral dalam masyarakat lebih luas. Maka sudah sepantasnya masyarakat dan Terlebih yang bergelut di dunia pendidikan merasa perihatin dan mendorong serta membuat cara mengembalikan ruh jati diri mahasiswa.

Sebab tataran kampus yang selama ini tidak membuka ruang dan dukungan bagi mahasiwa untuk berekspresi dan berkontribusi serta Tri Darma perguruan tinggi yang selama ini terbatas pada simbol, tetapi tidak benar-benar real di dalam aplikasinya barangkali salah satu dari sekian banyak alasan krisisnya kreatifitas mahasiswa sekarang.


Perguruan Tinggi seharusnya bisa menjadi kontributor bagi peningkatan perekonomian, serta mampu memperbaiki tatanan sosial dan budaya bangsa. Untuk itu,agar Kedudukan dan fungsi universitas benar-benar terwujud dalam peran yang nyata. Maka sebagai penunjang utama,perguruan tinggi harus meningkatkan kualitas riset, staf pengajar dan metode ajar. Dengan begitu, kualitas perguruan tinggi tidak hanya tertumpu oleh jumlah lulusan, lama studi, indeks prestasi kumulatif melainkan kreatifitas mahasiswanya.

BY: SBSR



Idealisme Mahasiswa Semakin Mandul, Kenapa?

13408615181351098446
Ilustrasi/Admin(hmimpofhuii.blogspot.com)

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen - momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan. Di masa lalu telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini.
Berkaca dari cermin sejarah, setiap pergerakan mahasiswa dari zaman ke zaman selalu memiliki kekuatan untuk memberikan setetes perubahan pada bangsa ini. Kritik yang disampaikan mahasiswa (walaupun terkadang berakhir menjadi wacana saja) , seringkali menjadi ”peringatan” yang tajam untuk pemerintah. Mahasiswa akan selalu mengalami regenerasi dalam perjuangannya. Karena Pergerakan mahasiswa adalah denyut nadi dari kehidupan mahasiswa itu sendiri,disaat pergerakan itu MATI, maka Mahasiswanya pun bisa dikatakan MATI.
Seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahu 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Ada kebanggan tersendiri, bukan soal menurunkan diktator Soeharto; tetapi bagaimana perjungan akan keadilan dan kesejahteraan itu bisa mahasiswa sumbangkan kepada negara tercinta ini.
Namun Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan orientasi gerakan. Sejak jatuhnya Soeharto pada bulan Mei 1998, mahasiswa Indonesia saat ini sudah terpecah. Kalau dulu mahasiswa berhimpun dalam satu barisan untuk melawan rezim diktator yang terkenal otoriter, dimana tenaga, waktu, air mata, keringat, bahkan darah menjadi taruhannya, dimana para martir intelektual berguguran dan betapa mahal dampak huru hara setelah peristiwa-peristiwa tersebut, kini mereka seperti terpecah.
Gerakan mahasiswa menjadi mandul, tidak substansif dan hanya sekedar corong ’sponsor’ saja. Idealisme yang diagung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat. Kemandulan idealisme menjadi sebuah ’tuduhan’ awal untuk menjawab fenomena ini. Dan bahkan sebagian besar organisasi mahasiswa mengeluhkan hal yang sama. Kekurangan kader militan yang secara kualitas dan kuantitas seimbang. Yang ada bukan hanya kader karbitan yang sesekali waktu bisa meninggalkan organisasi tanpa permisi. Organisasi intra kampus apalagi.
Pada keadaan seperti ini, Sejatinya mahasiswa perlu reorientasi arah gerak dan perjuangan mahasiswa. Kita perlu ’ret-ret’ mempertanyakan sejauh mana kontribusi kita bagi bangsa ini sebagai bukti kalau kita adalah bagian dari komunitas intelektual. Kita seharusnya mengingat dan merenungkan kembali catatan-catatan sejarah yang selalu menempatkan mahasiswa kritis ataupun sebagai pioneer perjuangan dalam menyatakan kebenaran.Tanpa radikalisme pemikiran mahasiswa kritis dan dukungan mahasiswa ataupun pemuda pada umumnya, niscaya sampai hari ini sejarah hanya akan melewatkan lembaran-lembaran kosong dalam buku catatanya.

Sungguh kita rindu melihat mahasiswa-mahasiswa dari strata sosial, agama, etnis dan latar belakang manapun berteriak dengan lantang dalam satu barisan kalau mereka adalah intelektual Indonesia yang sebenarnya. “Bangkitlah Mahasiswa Indonesia dari tidur panjang mu.” Kita hidup di dunia nyata. Segala impian dan kenangan mengenai perjuangan dan pergerakan mahasiswa bolehlah tetap ada tetapi jangan sampai kita terus terbuai olehnya. Tetap beraksi, fokus, dan mengedepankan intelektualitas sebagai kekuatan satu-satunya kita. Mahasiswa tidak bertindak dengan senjata. Bagi kita, senjata adalah kata-kata yang keluar dari kemurnian hari dan kejujuran dalam bertutur.
Jangan sampai idealisme mahasiswa untuk memperjuangkan kesejahteraan sirna oleh kemilau kemajuan teknologi yang memudahkan hidup dengan mengenyampingkan semangat berpikir. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa terpasung oleh tawaran menggiurkan bernama globalisasi dan pasar bebas yang menyediakan segala sarana bagi manusia. Juga di dalamnya mahasiswa. Jangan sampai hal ini akhirnya menjadi mitos, bahwa kemandulan aksi dan perjuangan mahasiswa bertekuk lutut pada yang namanya fashion, food, and film.
Saatnya bangkit dari tidur panjang dan mimpi indah mengeni heroiknya perjungan mahasiswa dulu. Perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh mahasiswa dulu layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini.
Saat ini,bangsa ini menaruh harapan besar kepada kita mahasiswa, harapan untuk menyelamatkan bangsa ini dari ambang kehancuran. Dengan kegagahan intelektualitasnya, ketegaran jasmaninya, serta mentalitasnya yang pantang menyerah menjadikan pergerakan mahasiswa adalah tonggak utama bagi perubahan. Oleh karena itu,sudah saatnya mahasiswa seharusnya menunjukan taringnya sebagai garda terdepan agent of change. akhir kata “…Masa kini adalah masanya kita. Siapa yang diam, dia akan ditinggalkan dan dilupakan oleh Sejarah. Hanya orang kritis dan beranilah yang membuat perubahan….”
Salam Mahasiswa.

BY: SBSR
TEMUKAN JUGA DI KOMPASIANA

Jumat, 22 Juni 2012

Sesal di Akhir Sang Anak Kos

Awal kuliah Uang kiriman orang tua
walau pun pas-pasan tetap selalu bersyukur
Uang kiriman diatur hemat
karena ingat bapak ibu susah nyari duit

Pergi ke kampus jalan kaki mengirit ongkos
baju bersetrika rambutnya licin
pakai celana yang bukan jin
tugas dan laporan selalu dibikin.


Kalau orang tua menelpon
air matanya jatuh setetes
Teringat keringat bunda menetes
meminta doa supaya sukses


Memasuki semester 5 dia kuliah
sudah banyak yang berubah
malam bergaple sampai sakit
bangunnya siang terbirit-birit


Mau kuliah tak sempat mandi
deodoran disemprot disana-sini
kancing bajupun meleser sebiji
apa boleh buat nggak bangun pagi


Sampai di kampus datang terlambat
ditanya dosen mengapa telat
berbohong cari jawaban tepat …!!!
bikin tugasnya juga tak jelas


Dan kini dia sudah semester 8
Aduuuuuhhhh bagaimana ini?
hutangnya banyak disana-sini
Kiriman habis buat sang pacar

Jadinya makan ga makan


Tak bisa lagi bayar biaya kos
kuliahpun memang suka bolos
terancam DO bisa tak lolos



Ibu kos marah-marah
nagih uang kos,
minta ditunda masa pembayaran
alasan uang masih di jalan

Selama belum bisa bayar
jarang dirumah banyak keluar
alasan tugas tak kelar-kelar
ternyata itu cuma koar-koar


Kalau begini sudah caranya
tak akan sukses dikuliahnya

Sejenak dia merenung
teringat nasehat baik
yang terucap dari orang tua
sebagai bahan untuk berfikir si anak
saat melepas merantau untuk kuliah


Belajar engkau dengan serius
tugas kuliah harus diurus
agar kuliah segera lulus
masa depanmu pasti kan mulus

Janganlah banyak bermain saja
apalah lagi berhura-hura
kasihani kedua orangtua
peras keringat berdarah-darah

Jadilah engkau putra idaman
hidup merantau didalam iman
kelak namamu jadi gumanan
harum semerbak bunga ditaman.


Tetapi penyesalannya sia-sia
Sesal diakhir tiada guna
hanya membuat lemah karena
meratap kelak diujung sana
ketika tua menjelang fana.

Kampus Di mata Mahasiswa zaman sekarang

13380147351270724054
Gaya Hidup Mahasiswa sekarang(pema-usm.blogspot.com)

BAGI mahasiswa tertentu, kampus menjadi zona nyaman untuk menghabiskan sisa usia serta zona aman agar tidak dikatakan sebagai pengangguran. “Daripada nganggur di rumah lebih baik menjadi mahasiswa di kampus,” kata seorang teman. Saking nyaman menyandang status mahasiswa, tidak jarang sebagian mahasiswa rela menghabiskan jatah studi maksimum 14 semester. Dalih mereka banyak. Bagi yang merasa senior di sebuah organisasi mahasiswa, dalih nyaman hidup di kampus adalah untuk melakukan kaderisasi. Yang merasa mendapat kenyamanan finansial dari orang tua, dalih pembenaran mereka adalah memanfaatkan peluang selagi masih mendapatkan jaminan hidup. Tak apalah lama di kampus, toh masih ada yang menanggung.


Beda dari komunitas mahasiswa yang harus mandiri untuk menempuh perjalanan pendidikan. Dalih pembenaran di kampus bukan kenyamanan, melainkan “keterpaksaan”. Bagi mereka, menjadi mahasiswa adalah kesempatan untuk meraih gemilang masa depan. Karena itulah, banyak di antara mereka yang selama masih menjadi mahasiswa juga ikut berbagai kegiatan kampus atau sambil bekerja paruh waktu. Aktivitas di kampus adalah untuk memperkaya poin, bukan koin. Demi memenuhi kebutuhan, mereka rela berlama-lama di kampus, asal apa yang mereka impikan kelak tercapai. Empat tahun menjadi mahasiswa terasa kurang cukup waktu untuk melakukan usaha diri, menempa diri, mengembangkan diri. Sakralitas waktu mereka manfaatkan secara baik.

Pertanyaannya, lebih banyak mana mahasiswa yang merasa nyaman di kampus dan yang merasa terpaksa terus hidup di kampus? Memang belum ada penelitian mendalam tentang hal itu. Namun bila dilihat dari fenomena kehidupan dan gaya hidup di kampus, tak sulit menemukan banyak kelatahan di kalangan rakyat kampus. Gaya tutur, gaya tubuh, dan gaya bahasa ternyata masih menyisakan ironi dan kegenitan intelektual.

Seperti Mal.Cara-cara bergaya itu ternyata terdukung oleh gaya arsitektur kampus dan lingkungan yang melingkupi. Karena banyak mahasiswa bersepeda motor atau bermobil ria ketika kuliah, pihak kampus pun tak segan menyediakan tempat parkir luas dan nyaman. Kebijakan praktis kampus bukan untuk mengatur agar mobilitas kendaraan tidak menyesaki ruang belajar, tetapi justru memperluas area parkir. Akibatnya, kampus tampak seperti mall yang kikuk menampung kendaraan.

Kenyamanan tempat makan juga membuat kampus harus menyediakan ruang kantin lebih besar. Bukan hanya mahasiswa yang diuntungkan, pihak kampus pun meraup untung dari sewa tempat para penjaja makanan di kantin. Kampus akhirnya seperti pasar, ramai tawaran dan permintaan makan-minum dari mahasiswa yang lapar atau sekadar nongkrong. Bergaya. Ruang kampus makin sesak dengan transaksi dan ekspresi gaya hidup mahasiswa.
Bagaimana dengan pusat studi? Dijamin, perpustakaan, majelis diskusi, seminar, dialog, dan lain-lain adalah tempat terasing dan singgahan terakhir bagi mahasiswa ketika ada tuntutan akademis: menulis makalah atau skripsi. Ia bukan ruang singgahan yang asyik untuk memanjakan diri. Perpustakaan adalah kegelapan yang sepi peminat. Padahal, ia merupakan jantung perguruan tinggi.

Sering Dibungkam Ruang-ruang sepi senyap itu hanya dinikmati kalangan mahasiswa yang merasa “terpaksa” melakoni diri sebagai rakyat kampus. Ada ejeken sinis dari sementara mahasiswa bahwa menghadiri acara-acara “tak bergaya” itu tidak menjamin masa depan. Perguruan tinggi juga kurang melirik aktivitas mereka. Tak ada kebijakan infrastruktur bermakna yang mewadahi komunitas-komunitas diskusi dan kelompok studi mahasiswa, yang dihuni rakyat kampus “terpaksa” itu. Sulit menemukan gedung yang khusus diperuntukkan bagi diskusi atau pentas seni, misalnya.

Dalam beberapa kasus, aktivitas mereka malah sering kali dibungkam secara birokratis. Teriakan pers mahasiswa acap tak didengar, bahkan dibungkam. Untuk menghadirkan pembicara dalam sebuah diskusi, kelompok kritis itu harus beraudiensi dulu dengan pengelola kampus, bila tidak ingin mendapatkan resistensi birokratis. Akhirnya, tak jarang hasrat intelektual mereka dikebiri. Hidup di kampus makin tak nyaman, kian tidak aman pula.
Karena ketidaknyamanan yang kian tidak aman, mereka keluar kampus mencari napas kebaruan. Justru ketika bergabung dengan kelompok luar itulah mereka lebih bisa mengembangkan diri dan terbuka, baik untuk mencari proyek maupun mengembangkan sayap intelektual. “Saya tidak mau menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang),” kata seorang kawan. Pilihan gaya mahasiswa memang beda-beda. Tergantung pada kenyamanan masing-masing.
SBS